KEMENTERIAN KESEHATAN RI
DIREKTORAT JENDERAL PENANGGULANGAN PENYAKIT
BALAI BESAR KEKARANTINAAN KESEHATAN MAKASSAR

bg1
bg5
bg6
bg4
bg3
bg2

previous arrow
next arrow

Category: Uncategorized

  • “Menyelamatkan Nyawa dengan Keterampilan yang Tepat” Pelatihan Bantuan Hidup Dasar pada PT. Pelindo Regional 4 Makassar

    “Menyelamatkan Nyawa dengan Keterampilan yang Tepat” Pelatihan Bantuan Hidup Dasar pada PT. Pelindo Regional 4 Makassar

    Makassar- Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Makassar kembali melaksanakan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi masyarakat pada tanggal 25 September 2024 di Kantor PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Regional Head 4, yang berlokasi di Pelabuhan Laut Makassar. Kegiatan ini menyasar seluruh perwakilan bagian PT. Pelindo 4 Makassar yaitu bagian HSSE (Health, Safety, Security and Environment) dan Manajemen Mutu, Operasi, Teknik, SDM & Umum, Keuangan, Security, dan Cleaning Service.

    Kegiatan diawali dengan sambutan sekaligus membuka acara ini oleh bapak Irwan Sjarifuddin selaku General Manager (GM) PT. Pelindo 4 Cabang Makassar. “Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini, karena pelatihan BHD ini sangat penting diketahui oleh orang awam seperti kita, jangan sampai kita bermaksud untuk menolong korban tapi malah kita yang membuat celaka lebih lanjut terhadap korban tersebut. Ada 3 pengalaman saya menyaksikan langsung kejadian kecelakaan lalu lintas, dalam hati saya berujar cara evakuasi terhadap korban tersebut menurutnya salah” ujarnya. Sehingga beliau meminta izin untuk mengikuti materi penting ini, karena ingin merefresh ilmu tentang bagaimana melakukan pertolongan pertama pada orang.  Beliau juga mengharapkan kegiatan ini akan menjadi kegiatan rutin tahunan dan kepada seluruh pegawai PT. Pelindo 4 Makassar. Dalam proses pemaparan materi, beliau juga sangat antusias mengikuti sesi ini.

    Pelatihan BHD dilaksanakan dalam 2 sesi dan sesi pertama adalah pemberian materi dengan metode ceramah dan tanya jawab dilanjutkan sesi kedua dengan praktek di 4 station berbeda yang diikuti oleh seluruh peserta secara bergilir. Narasumber berasal dari Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Makassar yang telah mengikuti TOT BHD atau pelatihan Tenaga Pelatih Kesehatan.

    Materi pertama tentang Identifikasi dan Alur Penanganan Kondisi Sakit, disampaikan oleh dr. Juniarty Naim, M.K.M. membahas mengenai bagaimana mengenal kondisi henti jantung dan henti napas serta bagaimana melakukan resusitasi jantung paru pada kondisi tersebut serta cara menggunakan Automatic External Defibrilator (AED). Pemaparan materi dilanjutkan oleh dr. Andi Pertiwi Kusuma tentang Identifikasi dan Alur Penanganan Korban Kecelakaan yang membahas cara mengidentifikasi dan memberikan pertolongan pertama pada kondisi patah tulang, perdarahan dan luka bakar. Materi ketiga dibawakan oleh dr. Abbas Zavey Nurdin, Sp.OK, M.KK, tentang Identifikasi dan Alur Penanganan Kondisi Cedera terutama membahas mengenai identifikasi kasus keracunan, sumbatan jalan napas dan kasus tersedak serta cara penanganannya. Materi keempat dibawakan oleh Amir, S.Kep, Ns mengenai evakuasi pada korban sakit, cedera dan kecelakaan, pada materi ini narasumber menjelaskan mengenai cara melakukan evakuasi atau pemindahan pasien tanpa alat atau dengan alat sederhana baik dengan 1 penolong atau lebih dan evakuasi pada kondisi kebakaran. Materi terakhir di bawakan oleh Wahyudi Hidayat, S.Kep., Ns.,M.KKK tentang Pengenalan Kotak P3K dan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), membahas tentang pentingnya kotak P3K tersedia di suatu kantor, jenis kotak P3K beserta isinya, selajutnya tetang APAR yang menjelaskan tentang prinsip dan cara pemadaman kebakaran menggunakan serta bagian-bagian APAR.

    Keberhasilan pelatihan dinilai dengan melakukan test sebelum dan sesudah pelatihan. Sebagai mana pelatihan sebelumnya, pelatihan kali ini juga berhasil meningkatkan pengetahuan peserta. Hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan nilai post test yang cukup signifikan yaitu sebesar 51 poin, dimana rata-rata nilai pre test adalah 41 sementara rata-rata nilai postest adalah 92.

    Diakhir sesi, dilakukan kegiatan screening penyakit tidak menular (PTM), bertujuan untuk deteksi dini, sehingga dapat membantu peserta dalam memantau kondisi kesehatan serta mengedukasi pentingnya cek kesehatan secara rutin menerapkan gaya hidup sehat. Kegiatan PTM ini terdiri dari pemeriksaan status gizi dengan cara menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT), pemeriksaan kadar Gula Darah Sewaktu (GDS), kadar kolesterol dan kadar asam urat di dalam darah serta konsultasi hidup sehat.

    Melakukan screening penyakit menular (PM), terdiri dari pertama screening penyakit TBC bertujuan deteksi dini, identifikasi kasus, pencegahan penyebaran infeksi dengan cara mengumpulkan informasi tentang gejala, riwayat kontak dengan penderita TBC serta faktor risiko lainnya. Kedua screening penyakit HIV bertujuan deteksi dini, identifikasi infeksi HIV dengan cara anamnesis untuk mengumpulkan riwayat kesehatan, faktor risiko dan gejala yang mungkin dialami serta pemeriksaan Tes Antibodi HIV (tes cepat). (A. Pertiwi K.)

  • Gerakan Pramuka Saka Bakti Husada (SBH) BBKK Makassar Gelar Penyuluhan Sanitasi Tempat Pengolahan Pangan (TPP) dan Personel Hygiene serta Pemeriksaan Kesehatan bagi Penjamah Makanan di Pondok Pesantren IMMIM Putera Makassar.

    Gerakan Pramuka Saka Bakti Husada (SBH) BBKK Makassar Gelar Penyuluhan Sanitasi Tempat Pengolahan Pangan (TPP) dan Personel Hygiene serta Pemeriksaan Kesehatan bagi Penjamah Makanan di Pondok Pesantren IMMIM Putera Makassar.

    Dalam rangka meningkatkan kesadaran dan pengetahuan kesehatan di lingkungan pondok pesantren, hari jumat, 04 Oktober 2024 Gerakan Pramuka SBH “Arung Palakka” BBKK Makassar menggelar penyuluhan kesehatan di Pondok Pesantren IMMIM Putera Makassar, hari ini. Acara ini bertujuan untuk memberikan edukasi penting terkait kebersihan dan kesehatan di tempat pengolahan makanan pesantren seperti di dapur dan kantin untuk mencegah timbulnya berbagai penyakit menular dengan mengusung tema kegiatan  “Lingkungan Sehat, Santri Kuat, Masa Depan Hebat”.

    Kegiatan penyuluhan dihadiri oleh sekitar 24 orang peserta, dari bagian gizi/penjamah makanan dan pengurus pondok pesantren. Saat pembukaan berlangsung, pimpinan pondok pesantren yang diwakili oleh Wakil Direktur menyambut baik dan menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran Tim dari Gerakan Pramuka SBH BBKK Makassar yang telah memilih Pondok Pesantren IMMIM Putra sebagai salah satu tempat diadakannya sosialisasi dan penyuluhan kesehatan terkait kesehatan penjamah makanan dan pemeriksaan kesehatan, Tim SBH BBKK Makassar yang saat diadakan kegiatan tersebut dipimpin oleh Arham Alam, S. Kep, Ners, M. KKK, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Kesehatan adalah kunci utama dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, terutama bagi para santri yang memiliki jadwal kegiatan yang padat. Melalui penyuluhan ini, diharapkan para santri bisa mengkonsumsi makanan yang lebih sehat dengan pengelolaan makanan yang lebih baik,” ujar Arham Alam. Disampaikan pula pentingnya pemberdayaan masyarakat memalui kegiatan penyuluhan agar mereka mampu berkontribusi dalam pembangunan kesehatan tentunya pada konteks upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui penyiapan kondisi yang sehat dan prima bagi penjamah makanan, pemateri pertama adalah Nurhayati, SKM, menyampaikan materi terkait kesehatan penjamah makanan, hal hal yang harus diperhatikan mulai dari pemilihan bahan makanan, proses pengolahan dan penyajiannya. Dan pemateri terakhir yang dibawakan oleh dr. Ruslan yang menyampaikan pentingnya pengelolaan makanan dan penyajiannya, cara cuci tangan yang benar, penyakit bawaan makanan serta binatang pembawa penyakit DBD. Peserta penyuluhan juga diajarkan bagaimana cara melakukan 6 langkah cuci tangan yang benar.

    Setelah penyampaian materi penyuluhan diberikan, dilanjutkan dengan diskusi dan dialog interaktif berupa tanya jawab pengelolaan makanan dan penyajian makanan yang baik dan sehat. Para peserta sangat antusias mengikuti kegiatan ini, terutama saat mengetahui hal-hal penting dalam penyajian dan cara penyimpanan bahan pangan yang tepat. Salah seorang peserta penyuluhan, bu Ira (48), menyampaikan, “Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami dengan materi yang bisa langsung dipraktekkan bagi tim gizi dan pengelola kantin di lapangan, harapan kami kegiatan ini dilakukan di kampus pesantren IMMIM di Moncongloe Maros.”

    Penyuluhan ini merupakan salah satu program rutin yang dilakukan oleh SBH bekerja sama dengan berbagai institusi pendidikan, termasuk pondok pesantren, dalam rangka mewujudkan masyarakat yang sehat dan sejahtera.

    Setelah sesi penyuluhan, kepada seluruh penjamah makanan dilakukan pemeriksaan kesehatan yang berhubungan dengan personel hygiene.

  • KOLABORASI DIT SKK, BKK, BRIN DAN DINKES DALAM DETEKSI LEPTOSPIRA PADA TIKUS DI KABUPATEN MAJENE PROVINSI SULAWESI BARAT

    KOLABORASI DIT SKK, BKK, BRIN DAN DINKES DALAM DETEKSI LEPTOSPIRA PADA TIKUS DI KABUPATEN MAJENE PROVINSI SULAWESI BARAT

    Tikus merupakan binatang kosmoplitan atau dapat hidup di berbagai tempat mulai dari tempat yang jauh dari lingkungan manusia seperti di hutan (silvatik), hidup di luar rumah/sekitar pemukiman seperti lahan perkebunan, lahan pertanian maupun pekarangan rumah (peridomestik) dan tikus yang hidup di dalam rumah (domestik). Tikus sebagai binatang yang hidup liar apabila populasinya tinggi dapat membawa dampak negatif seperti dapat merusak tanaman pada pertanian dan perkebunan. Tikus juga sebagai binatang pengerat dapat merusak perabotan rumah bahkan kabel listrik. Selain itu tikus juga merupakan binatang pembawa penyakit antara lain Pes, Leptospirosis, Hantavirus  dan penyakit lainnya. Kehadiran tikus di lingkungan pemukiman merupakan potensi penularan penyakit pada masyarakat sehingga perlu dilakukan survei dan pengendalian apabila kepadatan populasinya tinggi.

    Salah satu penyakit yang umum ditemukan adalah Leptospirosis yang disebabkan oleh infeksi dari bakteri leptospira. Bakteri ini biasanya hidup dalam darah  dan ginjal tikus. Penularan dapat terjadi apabila air kencing atau darah tikus kontak dengan membran mukosa seperti mulut ataupun kontak dengan luka. Penularan Leptospirosis sering terjadi pada saat banjir dimana air kencing tikus yang ada dalam air yang tergenang sehingga menginfeksi manusia yang terdapat luka. Penularan juga dapat terjadi pada saat melakukan pembesihan rumah/pekarangan pasca banjir dan pada petani di sawah yang umumnya tidak menggunakan alas kaki.


    Pada tanggal 6 sampai dengan 8 Oktober 2024 dilaksanakan kegiatan surveilans sentinel kepadatan tikus dan deteksi bakteri leptospira pada tikus di Kelurahan Labuang Kecamatan Banggae Timur Kabupaten Majene. Surveilans sentinel ini  ini dilaksanakan oleh Direktorat Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan (Dit SKK) Kemenkes RI untuk mendapatkan gambaran kepadatan populasi tikus dan tikus infektif bakteri Leptospira di wilayah Dinas Kesehatan Kabupaten Majene.  melibatkan petugas sebanyak 9 orang dan kader kesehatan lingkungan yang terdiri dari Dit SKK 2 orang, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 1 orang, Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Makassar 2 orang, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat 1 orang, Dinas Kesehatan Kabupaten Majene 1 orang, Puskesmas Lembang 2 orang  dan kader kesehatan lingkungan sebanyak 6 orang.


    Kegiatan dimulai dengan pemasangan perangkap tikus pada rumah penduduk di Kelurahan Labuang Kecamatan Banggae Kabupaten Majene. Perangkap yang dipasang hari pertama  pada 75 rumah penduduk sebanyak 150 perangkap (luar rumah  75 perangkap dan dalam rumah 75 perangkap). Perangkap dipasang pada sore hari tanggal 6 Oktober 2024 dan diambil pada tanggal 7 Oktober 2024 mulai pukul 6.00 – 07.00 WITA. Hasil pemasangan perangkap pada hari pertama didapatkan tikus sebanyak 22 ekor masuk perangkap, namun lepas 3 ekor sehingga hasil tangkapan hari pertama sebanyak 19 tikus yang terdiri dari 8 ekor tikus berjenis kelamin jantan dan 11 ekor dengan jenis kelamin betina. Adapun spesies tikus yang didapatkan ada 2 yaitu spesies Rattus tanezumi sebanyak 4 ekor dan Rattus norvegicus sebanyak 15 ekor. Rattus tanezumi mempunyai habitat di dalam rumah (domestik) sedangkan Rattus norvegicus mempunyai habitat di luar rumah (Peridomestik) atau di saluran air sehingga disebut tikus tikus got.

    Tikus yang berhasil ditangkap dilakukan proses mulai dari pembiusan, penyisiran, identifikasi, pembedahan, pengambilan sampel dan deteksi bakteri Leptospira dan Hantavirus dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) salah satu ruangan yang disiapkan di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Majene. Pembiusan dilakukan untuk melumpuhkan tikus sebelum proses selanjutnya, hal ini bertujuan agar dapat dilakukan perlakuan pada tikus dan tikus tidak meronta atau menggigit bahkan lepas.

    Tikus yang sudah lumpuh dapat dilanjutkan dengan penyisiran tikus untuk mendapatkan pinjal tikus yang merupakan penular penyakit Pes. Tahap selanjutnya tikus diidentifikasi secara morfologi dengan melakukan pengukuran dan pengamatan visual. Pengukuran badan yaitu berat badan, panjang badan, panjang ekor, panjang telapak kaki, panjang telinga dan panjang testis (jantan). Adapun pengamatan visual berupa pengamatan warna rambut dan jenis rambut serta jumlah mammae (puting susu). Tikus yang sudah diidentifikasi dilakukan pembedahan untuk mengambil sampel berupa ginjal (identifikasi leptospira) dan paru paru (identifikasi hantavirus). Sampel leptospira diproses di lokasi dengan menggunakan alat PCR Portabble sedangkan sampel Hantavirus dikirim ke Balai Laboratorium Kesehatan Lingkungan Salatiga untuk pemeriksaan lebih lanjut. Proses deteksi bakteri leptospira dengan PCR didahului dengan Ektraksi DNA sebelum dimasukkan ke dalam alat PCR Portable dan setelah dimasukkan tinggal di-running lalu menunggu pembacaan hasil. Adapun hasil pemeriksaan pada hari pertama dari 19 sampel ginjal tikus yang diperiksa, sebanyak 10 sampel yang positif terinfeksi bakteri leptospira.

    Pada hari kedua pemasangan perangkap tikus dilakukan pada sore hari tanggal 7 Oktober 2024 dan diambil pada pagi hari tanggal 8 Oktober 2024. Pada hari kedua jumlah perangkap yang terpasang juga sebanyak 150 perangkap, jadi total perangkap terpasang selama 2 hari sebanyak 300 perangkap. Tikus tertangkap pada hari kedua  sebanyak  18 ekor dan lepas lima ekor tersisa 13 ekor yang terdiri dari 6 ekor jantan dan 7 ekor betina, spesies tikus yang didapatkan sebanyak 4 ekor spesies Rattus tanezumi dan 9 ekor Rattus norvegicus. Hasil PCR tikus pada hari kedua dari 13 sampel yang diperiksa ditemukan  sebanyak 6 sampel positif.

    Total tikus tertangkap pada pemasangan 300 perangkap selama 2 hari yaitu sebanyak 32 ekor dengan Succes Trap 10,67%. Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) nomor 2 tahun 2023 tentang pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan disebutkan Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan Succes Trap pada tikus adalah <1%. Jika Succes Trap yang didapatkan dibandingkan dengan Standar Baku Mutu Kesehatan lingkungan maka hasil pemasangan perangkap di Kelurahan Labuang Kecamatan Banggae Timur Kabupaten Majene tidak memenuhi standar dan berpotensi terjadi penularan penyakit Leptospirosis sehingga perlu dilakukan pengendalian.

    Adapun hasil pemeriksaan PCR pada hari kedua didapatkan dari 13 sampel, sebanyak 6 sampel positif. Total hasil PCR yang positif sebanyak 16 sampel dari 32 sampel (50%). Hasil pemeriksaan PCR juga ditemukan tikus yang terinfeksi bakteri leptospira tidak memenuhi Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan pada Permenkes nomor 2 tahun 2023 yaitu tikus yang mengandung patogen virus/bakteri/parasit adalah 0. Hasil pemeriksaan PCR semakin menguatkan adanya potensi penularan penyakit Leptospirosis di lokasi survei.

  • TINGKATKAN PENGETAHUAN PETUGAS PENGENDALI VEKTOR DAN PETUGAS PENGAWAS FUMIGASI, KEPALA BBKK MAKASSAR GELAR COACHING

    TINGKATKAN PENGETAHUAN PETUGAS PENGENDALI VEKTOR DAN PETUGAS PENGAWAS FUMIGASI, KEPALA BBKK MAKASSAR GELAR COACHING

    Bertempat di Aula Pertemuan Lantai 2 Gedung BBKK Makassar Wilker Pelabuhan Makassar, Rabu 16 Oktober 2024 Kegiatan Sharing Session oleh Kepala BBKK Makassar mengangkat tema Optimalisasi Peran Pengawas Fumigasi dalam pelaksanaan tugas tindakan penyehatan alat angkut.

    Kegiatan Coaching ini diselenggarakan bertujuan untuk penyegaran pengetahuan dan kemampuan pengawas fumigasi dalam melakukan tindakan penyehatan alat angkut yang merupakan tugas dari Balai Kekarantinaan Kesehatan Kementerian Kesehatan dalam rangka upaya cegah tangkal keluar atau masuknya penyakit dan/atau faktor risiko kesehatan di Pelabuhan.

    Mengawali materinya, Agus Jamaluddin, SKM.,M.Kes menjelaskan bahwa dibutuhkan kemampuan dan keterampilan khusus untuk melaksanakan tugas pengendalian vektor, hal ini dapat diperoleh salah satunya melalui  upaya pengembangan potensi dan keterampilan pengawas fumigasi.

    Kemampuan petugas mengenali adanya tanda-tanda kehidupan tikus tentu membutuhkan pengetahuan dan juga keterampilan. “Mengenali tanda-tanda kehidupan tikus, melalui beberapa cara antara lain : adanya bekas gigitan tikus pada kemasan makanan maupun peralatan makanan, terdapat kotoran tikus, adanya jejak tikus, suara mencicit sampai dengan temuan adanya bangkai tikus” ungkapnya.

    Lebih lanjut Agus mejelaskan bahwa Petugas pengendali vektor dan juga Pengawas Fumigasi dalam mengenali tanda-tanda kehidupan tikus dapat memprediksi jumlah keberadaan tikus di kapal dengan perbandingan satu ekor tikus yang terlihat sama dengan 14 tikus lainnya yang tidak terlihat, dengan demikian hal ini dapat menjadi indikator pemberian rekomendasi dilakukannya tindakan penyehatan alat angkut yang dibuktikan dengan dokumentasi keberadaan tikus.

    Tindakan penyehatan alat angkut berupa disinseksi, deratisasi, disinfeksi, dan dekontaminasi. Tindakan Fumigasi sendiri merupakan salah satu metode upaya tindakan deratisasi, fumigasi ini dapat membasi vektor berupa tikus, kecoa dan kutu busuk dengan menggunakan bahan fumigan seperti yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku yang pelaksanaannya dilakukan oleh Badan Usaha Swasta (BUS) dan BBKK/BKK/LKK sebagai pengawas penyehatan alat angkut. Bahan fumigan yang sering digunakan antara lain : CH3Br (dalam tabung 12 kg), sulfur (dengan cara dibakar), Fospin (sedian tablet) dan Sulfur Fluoride (utk fumigasi komoditi logam) yang mana kesemua bahan fumigan ini bersifat toksik dan mematikan.

    “Hal yang perlu diperhatikan sebelum pelaksanaan fumigasi adalah bahan fumigan yang digunakan serta aspek lingkungan,” jelasnya. Pengawas fumigasi sebelum pelaksanaan fumigasi wajib melakukan beberapa hal antara lain melakukan safety induction pada Crew sebelum tindakan fumigasi memastikan seluruh crew kapal yg ada di manifest harus hadir untuk diberikan edukasi tentang jenis dan efek dr bahan yg akan digunakan dan tanda-tanda keracunan, setelah selesai fumigasi semua barang yg terkontaminasi seperti alat makan, sprei dan lainnya harus dicuci, absensi satu persatu, pastikan semua sudah keluar dari kapal saat akan dilakukan seal. Bentangkan spanduk dilarang mendekat (gambar tengkorak. red) kibarkan bendera isyarat kapal dengan kode VE atau GOS sebagai penanda bahwa kapal tersebut sementara di fumigasi”, tambahnya.

    Lebih lanjut Agus menjelaskan bahwa jalur masuknya fumigan kedalam tubuh dapat melalui mulut (ingesti), pernapasan (inhaler), kulit (dermal) dan juga melalui mata. Dengan demikian pengawas fumigasi harus memastikan setiap Fumigator dari BUS dalam melaksanakan tindakan fumigasi wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) berupa : masker canister full face sarung tangan karet/kulit, wearpack, dan sepatu kulit laras tinggi. Setelah pelaksanaan tugas Fumigator diharuskan mengganti baju kerja dan mandi setelah bekerja.

    Sebelum pelaksanaan fumigasi, tim medis melakukan pemeriksaan kesehatan pada petugas fumigator BUS sebelum dan sesudah melakukan fumigasi untuk memastikan fumigator dalam kondisi sehat. Bersama-sama dengan dokter, petugas pengawas fumigasi melakukan pengawasan di sekitar kapal selama pelaksanaan fumigasi berlangsung.

    Agus juga menjelaskan alasan mengapa penting dilakukan pengawasan vektor nyamuk Aedes Aegypti diwilayah perimeter dan buffer, “vektor nyamuk Aedes Aegypti merupakan vektor penularan penyakit Yellow Fever atau demam kuning yang sampai saat ini masih merupakan salah satu penyakit karantina selain juga menjadi vektor penyakit demam berdarah. Keberadaan jentik Aedes Aegypti dapat dikenali dengan ciri-ciri jika jentiknya disorot cahaya menjadi reaktif, dan perindukannya pada air bersih yang tertampung bukan di air kotor dan air yang langsung bersentuhan dengan tanah. “Begipula dengan lalat, vektor ini dapat menyebabkan penyakit saluran cerna, yang paling sering adalah diare”, tambahnya.

    Hadir dalam kegiatan sharing session ini yakni Ketua Tim Kerja  Pengawasan Faktor Risiko Kesehatan Alat Angkut dan Barang, Dra. Hj. Aisyah Sufrie, M.Sc.PH, Ketua Tim Kerja Pengawasan Faktor Risiko Lingkungan, Ibrahim, SKM.,M.Kes, Kepala Wilayah Kerja BBKK Makassar Wilker Pelabuhan Makassar dr. H. Abbas Zavey Nurdin, Sp.Ok., M.KK, Kepala Pos Pelabuhan Rakyat Paotere, Nurhasni, SKM, dokter, sanitarian, entomolog, danl epidemiolog, pembimbing kesehatan kerja baik dari Wilker Pelabuhan Makassar , Pos Pelabuhan Rakyat Paotere, dan Kantor Induk BBKK Makassar.

    Menutup paparan materinya, Agus mengingatkan dan menegaskan kembali agar semua Petugas BBKK Makassar dalam menjalankan tugasnya agar saling asah, asih dan asuh serta mengutamakan integritas serta menolak segala bentuk praktik korupsi, menerima suap dan gratifikasi dari pihak manapun. (WHD

  • BBKK Makassar Bersama Institusi Pendidikan Lakukan Pengabdian Masyarakat

    BBKK Makassar Bersama Institusi Pendidikan Lakukan Pengabdian Masyarakat

    Makassar. Instalasi Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Makassar, yang dibentuk  sejak 5 tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 1 Oktober 2019, dan sampai saat ini telah bekerjasama dengan 49 Program Studi dari 18 perguruan tinggi yang ada di tiga provinsi yaitu Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah. Selain kerjasama di Bidang Pendidikan, BBKK Makassar dan institusi pendidikan juga melaksanakan dua dari tiga Tridarma perguruan tinggi  lainnya yaitu Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat.

    Dalam menyambut 5 tahun berdirinya Instalasi Diklat, pada hari jumat tanggal 1 November 2024, BBKK Makassar melaksanakan pengabdian masyarakat berupa Penyuluhan Kesehatan, Pemeriksaan serta Pengujian Kesehatan di Akademi Maritim Indonesia – Akademi Ilmu Pelayaran Indonesia (AMI AIPI) Makassar yang beralamat di Jl. Gatot Subroto Baru No 54 Makassar. Kegiatan pengabdian masyarakat ini berkerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (FK UMI) dan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (FKIK UINAM).

    Pengabdian masyarakat diawali dengan penyuluhan kesehatan terkait standar penilaian kesehatan pelaut serta pentingnya menjaga kesehatan pelaut untuk meningkatkan produktifitas demi kemajuan bangsa dan negara. Penyuluhan ini disampaikan oleh Kepala Instalasi Diklat dr. Abbas Zavey Nurdin, Sp.Ok.,MKK kemudian dilanjutkan dengan Pengujian Kesehatan.

    Kegiatan pemeriksaan dan pengujian kesehatan dipimpin oleh Sekretaris Diklat dr. Hj. Fitriah Djayalangkara dibantu oleh Mahasiswa Program Profesi Dokter dari FK UMI dan FKIK UINAM, dan berhasil menyasar 40 Taruna dan Taruni AMI AIPI Makassar semester satu.

    Direktur AMI AIPI Makassar, Andi Muhammad Yani, ST, MM menyampaikan terima kasih kepada Tim BBKK Makassar dan seluruh pihak yang terlibat pada pengabdian masyarakat ini. Andi juga menyampaikan harapan pemeriksaan dan pengujian kesehatan ini dapat dilaksanakan lagi untuk taruna taruni serta staf yang belum melakukan pemeriksaan.

    Sementara itu Kepala Balai Besar Kekaranatinaan Kesehatan Makassar Agus Jamaludin, SKM, M.Kes yang dihubungi terpisah menyampaikan dukungan atas kegiatan-kegiatan instalasi diklat. Agus juga memberikan apresiasi dan semangat kepada tim instalasi diklat atas perjuangan yang telah dilaksanakan. Abbas