| Selamat datang di zona integritas KKP Kelas I Makassar | | Wilayah bebas dari korupsi (WBK) dan wilayah birokrasi bersih melayani | | Dilarang memberikan suap / gratifikasi dalam bentuk apapun | | Laporkan bila ada permintaan gratifikasi melalui menu WBS pada website ini | | Untuk kemudahan tentang informasi pelayanan KKP Makassar anda dapat mengakses pada menu SIMPEL-TA pada website ini atau whatsapp chatbot di link ini https://wa.link/dkf0b7 | | Selamat datang di zona integritas KKP Kelas I Makassar | | Wilayah bebas dari korupsi (WBK) dan wilayah birokrasi bersih melayani | | Dilarang memberikan suap / gratifikasi dalam bentuk apapun | | Laporkan bila ada permintaan gratifikasi melalui menu WBS pada website ini | | Untuk kemudahan tentang informasi pelayanan KKP Makassar anda dapat mengakses pada menu SIMPEL-TA pada website ini atau whatsapp chatbot di link ini https://wa.link/dkf0b7 |



Pengamatan dan Pengendalian Tikus di Wilayah Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar Tahun 2021

Share


Pelabuhan dan Bandara sebagai pintu masuk lalu lintas dari orang-orang dan barang antar negara. Hal ini tentu berdampak pada ekonomi, gaya hidup dan kesehatan pada masyarakat setempat. Perubahan tersebut juga berpengaruh terhadap pola penularan penyakit.Salah satunya yaitu meningkatnya kasus penyakit menular yang berpotensi sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) [10].

Tikus merupakan satwa liar yang seringkali berhubungan dengan kehidupan manusia. Tingginya populasi tikus akan berdampak pada kerugian di berbagai bidang kehidupan manusia. Tikus juga memberikan dampak yang besar di bidang kesehatan yaitu tikus dapat menjadi reservoir untuk beberapa patogen penyebab penyakit pada seseorang, urin dan air liur dari tikus dapat menyebabkan penyakit Leptospirosis sedangkan gigitan pinjal yang ada pada tubuh tikus, dapat mengakibatkan penyakit pes. Tikus juga dapat menularkan berbagai penyakit lain seperti Murine typhus, Salmonellosis, Richettsial pox, Rabies, dan Trichinosis [2].

Keberadaan tikus dan ektoparasitnya di wilayah pelabuhan merupakan faktor risiko terjadinya penularan penyakit terutama yang bersumber dari binatang pembawa penyakit  sehingga diperlukan upaya pengendalian tikus yang efektif. Pengamatan tikus dilakukan sebagai bagian dari upaya pengendalian dalam rangka kewaspadaan dini terhadap penyakit menular terutama penyakit yang ditularkan oleh tikus sebagai reservoir di pelabuhan. Pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan tikus dan ektoparasitnya serta umpan yang  efektif dalam  penangkapan tikus. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengkaji keberadaan tikus, ektoparasit serta umpan yang efektif untuk tikus di pelabuhan Laut Soekarno-Hatta. Hasil pengamatan ini diharapkan dapat memberikan informasi yang bermanfaat untuk pencegahan dan pengendalian penyakit tular rodent dan tular vektor melalui ektoparasit khususnya di daerah pelabuhan.

Ektoparasit pada tikus diketahui dapat menyebabkan berbagai macam penyakit yang biasanya menular ke tikus ketika sedang makan ataupun (sesekali) buang air besar (Hopla, Durden and Keirans, 1994). Tikus dan ektoparasit merupakan jembatan penularan penyakit dari antar hewan maupun manusia. Berbagai jenis ektoparasit dikenal sebagai vektor zoonosis yang dapat mengakibatkan kematian bagi manusia. Ektoparasit pada tikus meliputi pinjal, kutu, caplak dan tungau [2,12,16]. Salah satu penyakit yang ditularkan melalui perantaraan ektoparasit pada tikus adalah penyakit Pes, disebabkan oleh Yersinia pestis dan dibawa oleh pinjal yang hidup pada bagian luar tubuh tikus. Penyakit ini pernah menjadi wabah di Eropa pada tahun 1400 dan menelan sebanyak 25 juta jiwa sedangkan di Indonesia sendiri pernah terjadi Kejadian luar Biasa (KLB) di Kabupaten Boyolali, Sleman, Bandung dan terakhir Pasuruan pada tahun 2007 [4,8,15].

Menurut laporan tahunan Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Makassar, di Pelabuhan Soekarno Hatta pada tahun 2020 melayani 14.330 kedatangan kapal yang terdiri 14.049 kapal dalam negeri dan 281 kapal dari luar negeri. Sedangkan keberangkatan kapal yang dilayani sebanyak 14.326 kapal yang terdiri dari 14.008 ke dalam negeri dan 318 kapal ke luar negeri. Dengan demikian lokasi di Pelabuhan Soekarno Hatta mempunyai faktor risiko penularan penyakit, disebabkan tikus yang berpindah mengikuti kapal yang datang dan pergi dari daerah lain terutama dari pelabuhan di wilayah terjangkit.  Daerah wilayah pelabuhan atau disebut dengan perimeter area. Wilayah perimeter meliputi wilayah yang terdapat kantor pemerintah, kantor swasta, terminal penumpang, terminal kontener, gudang serta rumah makan yang seharusnya steril dari berbagai vektor dan binatang penular penyakit.

Pengamatan ini dilaksanakan pada tanggal 23 Februari 2021 sampai dengan 26 Februari 2021 di wilayah Pelabuhan Laut Soekarno Hatta. Dalam kegiatan pengamatan ini dilakukan dengan menggunakan 4 jenis umpan yaitu Bakso, sosis, selai kacang dan ikan kering. Metode pemasangan perangkap yaitu sebanyak 29 titik pemasangan perangkap dan masing-masing titik dipasang 4 perangkap yang mewakili 4 jenis umpan yang digunakan. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang jenis umpan yang disukai oleh tikus.

Jumlah  tikus yang berhasil tertangkap dan ditemukan saat pengamatan yaitu sebanyak 10 tikus. Hasil pemasangan perangkap tikus yang dilakukan selama 4 (empat) hari, didapatkan dua jenis tikus yaitu Rattus norvegicus (90%) dan Rattus tanezumi (10%). Adapun jika dilihat dari jenis kelamin, tikus betina lebih banyak tertangkap sebanyak 7 ekor (70 %) dibandingkan tikus jantan sebanyak 3 ekor (30%) (Tabel 1).

 

Tabel 1: Data Tikus Berdasarkan Spesies dan Jenis Kelamin  di Wilayah Kerja

Pelabuhan Laut Soekarno Hatta Tahun 2021

 

Deskripsi

N

%

Jenis Tikus

 

 

Rattus norvegicus

9

90

Rattus  tanezumi

1

10

Genders

 

 

Jantan

Betina

3

7

30

70

                                                      Sumber: Data Primer, 2021

 

Hasil Pengamatan menunjukkan total success trap adalah 2,15 dimana angka ini menunjukkan bahwa tingkat kepadatan tikus di pelabuhan Makassar tidak memenuhi syarat berdasarkan Permenkes nomor 50 tahun 2017 dengan nilai baku mutu <1. Succes trap yang merupakan prosentase tikus tertangkap oleh perangkap indikator kepadatan relatif tikus pada suatu daerah [13]. Tikus tertangkap berdasarkan umpan  adalah tertinggi yaitu pada perangkap A (P.A) dengan umpan sosis sebesar 50% sedangkan umpan lainnya  yaitu pada perangkap B (P.B) dengan umpan bakso sebesar 30% serta perangkap C (P.C) dengan umpan selai kacang dan perangkap D (P.D) dengan umpan ikan kering sebagai kontrol masing-masing sebesar 10%. Adapun success trap harian menunjukkan angka tertinggi pada hari pertama, yaitu pada perangkap A dan perangkap B dengan umpanBakso (P.B) masing-masing sebesar 6,89 (Tabel 2).

 

Tabel 2: Data Keberhasilan Penangkapan (Success Trap) di Wilayah

 Pelabuhan Laut Soekarno-Hatta Bulan Februari Tahun 2021

 

Waktu Pelaksanaan

Perangkap Terpasang`

Tikus Tertangkap

Succes Trap

P. A

P. B

P. C

P. D

P. A

P. B

P. C

P. D

P. A

P. B

P. C

P. D

Hari ke-1

29

29

29

29

2

2

0

0

6,89

6,89

0

0

Hari ke-2

29

29

29

29

1

1

1

0

3,44

3,44

3,44

0

Hari ke-3

29

29

29

29

1

0

0

0

3,44

0

0

0

Hari ke-4

29

29

29

29

1

0

0

1

3,44

0

0

3,44

Total

116

116

116

116

5

3

1

1

4,31

2,25

0,86

0,86

Sumber: Data Primer, 2021

 

Hasil Pengamatan menunjukkan menunjukkan dari 10 ekor tikus yang positif terdapat ektoparasit ditemukan adanya ektoparasit jenis pinjal Xenopsylla cheopis 1 ekor (Tabel 3).

 

 

 

 

Tabel 3: Data Hasil Identifikasi Ektoparasit pada Tikus di

Wilayah Pelabuhan Laut Soekarno-Hatta Tahun 2021

 

 

Spesies

Keragaman Ektoparasit`

?

%

Pinjal (Xenopsylla cheopis)

Tungau

Kutu

Caplak

?

%

?

%

?

%

?

%

R. norvegicus

1

100

0

0

0

0

0

0

1

100

R. tanezumi

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Total

1

100

0

0

0

0

0

0

1

100

Sumber: Data Primer, 2021

 

Data yang diperoleh juga diolah secara spasial menggunakan aplikasi QGIS dan diperoleh hasil bahwa ada 6 lokasi yang positif tikus dan 8 lokasi yang negatif tikus. Ada 3 lokasi yang positif tikus berdekatan dengan lokasi yang negatif tikus. Selain itu, terdapat juga 4 lokasi positif tikus yang saling berdekatan (Gambar 1).

 

 

Gambar 1. Peta Area Penangkapan Tikus Pelabuhan Soekarno Hatta, Februari 2021

 

Hasil pengamatan selama 4 hari pemasangan perangkap dengan total perangkap sebanyak 116 buah perangkap perhari, secara umum diperoleh perhitungan Succes Trap per hari pada perangkap didapatkan nilai berkisar 0% sampai dengan 6,89%, dengan total success trap pada perangkap yang terpasang yaitu 2,15% .

Kepadatan ternyata mendapatkan perhatian yang serius dari para ahli lingkungan. Kepadatan adalah sejumlah mahluk hidup dalam setiap unit ruangan. Suatu keadaan akan diikatakan semakin padat bila jumlah mahluk hidup dalam suatu batas ruang tertentu semakin banyak dibandingkan dengan luas ruangnya [9].

Hasil pemasangan perangkap tikus juga menunjukkan bahwa terdapat dua spesies tikus yang diperoleh yaitu Rattus norvegicus (90%) dan Rattus tanezumi (10%). Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap dimana R. norvegicus tertangkap sebanyak 55 ekor (47,1%) dari total 117 ekor. Rattus norvegicus merupakan tikus golongan peridomestik karena tinggalnya di luar rumah (bangunan) akan tetapi karena dekat dengan pemukiman terutama di kota maka aktifitas mencari makan terkadang di dalam rumah, sedangkan Rattus tanezumi yang tingggal dan mempunyai aktivitas seperti bersarang, mencari makan serta berkembang biak di lingkungan rumah. [17].

Berdasarkan hasil pemasangan perangkap, diperoleh  bahwa jenis kelamin tikus tertangkap adalah 3 jantan (30%) dan 7 betina (70%). Hasil ini berbeda dengan pengamatan yang juga dilakukan di Pelabuhan Soekarno-Hatta oleh Manyullei pada tahun 2019. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa yang paling banyak tertangkap 10 ekor jantan (83,3%) dari total 12 tangkapan [9].

Tikus betina dapat berulang kali keluar dari sarangnya ketika hamil dan masa menyusui. Hal ini dikarenakan tikus betina berperan sebagai pencari makanan sedangkan tikus jantan sebagai penjaga sarang atau wilayah teritorialnya dari serangan predator. Alasan ini yang membuat tikus betina cenderung lebih mudah tertangkap dibandingkan tikus jantan [7].

Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa ditemukan jenis pinjal X. cheopis sebanyak 1 ekor pada tikus tertangkap. Hasil ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan pada tahun 2020 di Area Pelabuhan Manokwari yang menemukan sebanyak 33 ekor X. cheopis, 7 ekor kutu, 1 ekor tungau, dan 6 ekor caplak. Fenomena ditemukannya banyak parasit pada satu inang dikenal sebagai poliparasitisme. Hal ini biasanya disebabkan karena lingkungan inang memiliki keserasian dengan ektoparasit tersebut [3,8]. Kehadiran pinjal yang ditemukan pada tikus tertangkap merupakan faktor risiko penularan penyakit Pes yang disebabkan oleh Yersinia pestis, sehingga perlu dilakukan pengamatan lebih lanjut pada laboratorium apakah dalam tubuh pinjal yang tertangkap mengandung bakteri penular penyakit Pese tersebut. demikian juga untuk tikus yang tertangkap dapat diteliti lebih lanjut untuk mengetahui keberadaan bakteri Leptospira dalam tubuh tikus.

Tikus dan pinjal berinteraksi secara ektoparasit obligate sementara. Dalam interaksi ini pinjal dewasa selalu hidup menempel pada permukaan tubuh inang, sedangkan stadium pra dewasa tumbuh terlepas dari inangnya. Interaksi ini lebih bersifat leluasa, tidak seperti kutu (Anoplura) yang menetap selama hidupnya di tubuh tikus. Evolusi interaksi pinjal dan inang kelihatannya berhubungan dengan faktor-faktor lingkungan inang, faktor inang sebagai habitat pinjal (rambut, bulu, rambut), adaptasi fisiologi dan kemampuan untuk menyebar, isolasi serta spesifikasi. Beberapa jenis pinjal cenderung mempunyai kesamaan struktur dengan inangnya. Sedangkan jenis pinjal lainnya menempel kuat dan lama pada kulit inang sampai kenyang darah seperti cara makan caplak. Jenis pinjal tertentu menembus kulit inang sampai lapisan epidemis, sehingga menyebabkan kulit dapat bengkak, karena berisi pinjal yang kenyang darah. Istilah inang sejati (true host) sering digunakan untuk menandai suatu inang tunggal atau inang pilihan yang dianggap paling utama jika seandainya satu jenis pinjal menempati beberapa jenis inang. Inang utama yaitu inang yang cocok atau sesuai untuk kelanjutan reproduksi pinjal dalam jangka waktu yang tidak terbatas [14].

Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh bahwa secara berturut-turut umpan yang paling efektif dalam pengendalian tikus adalah sosis (50%), bakso (30%), selai kacang (10%) dan ikan kering sebagai kontrol (10%). Pengamatan serupa dilakukan oleh Muammar pada tahun 2020 di Pelabuhan Paotere untuk mengetahui umpan yang paling efektif untuk pengendalian tikus. Diperoleh hasil pemasangan perangkap setiap umpan secara berurut yaitu jagung kuning sebanyak 3 ekor (20%/), papaya matang sebanyak 2 ekor (13,3%), mentimun muda sebanyak 1 ekor (6,67%) dan buah apel sebanyak 1 ekor (6,67%) [18]

Peletakan perangkap dapat mempengaruhi keberhasilan penangkapan tikus. Perangkap diletakkan pada tempat yang diperkirakan sebagai jalan tikus (run way) atau sering dilewati tikus. Hal ini dapat dilihat dari tanda-tanda kehadiran tikus, seperti di dapur atau atap. Hal ini dikarenakan tikus mempunyai sifat thigmotaxis, yaitu mempunyai lintasan yang sama saat mencari makan, mencari sarang, dan aktifitas harian lainnya [1]. Tanda keberadaan tikus yang juga perlu diperhatikan saat pemasangan perangkap adalah kotoran tikus (droping), bekas gigitan (grawing), lubang (burrow) dan bau. Kotoran tikus dapat dikenali karena bentuk khas tanpa bau menyengat dengan tekstur lunak dan seiring waktu akan mengeras. Tikus juga memiliki kebiasaan untuk menggigit baik itu membuka jalan ataupun untuk makan sedangkan lubang biasanya tikus buat di sekitar tempat keberadaan tikus seperti di dinding, lantai, perabotan dan lain-lain [6,11].

Hasil pengolahan data secara spasial menunjukkan bahwa ada dua lokasi positif tikus yang yang saling berdekatan satu sama lain dengan buffer area seluas 30 meter. Lokasi tersebut adalah BMM dengan Multi Trading dan PT. Smart dengan Makassar Marine. Buffer area seluas 30 meter didasarkan pada kemampuan jelajah tikus yang dapat mencapai hingga radius 30 meter [17].

Tikus sendiri sebenarnya memiliki mobilitas yang berbeda-beda tergantung kondisi lingkungannya. Tikus dapat bergerak hingga ratusan meter jauhnya dari sarangnya untuk mendapatkan makanan. Di Area terbuka, tikus dapat meninggalkan sarangnya sejauh 438,7 m untuk jantan dan 459 m untuk betina [5].

Berdasarkan hasil pengamatan pada bulan Februari 2021 didapatkan bahwa kepadatan tikus (success trap) di Pelabuhan Soekarno-Hatta adalah 2,15, hal ini berarti tidak memenuhi syarat berdasarkan Permenkes 50 tahun 2017 (Standar baku Succes trap <1). Sedangkan Indeks pinjal umum yang diperoleh adalah 0,1 (Standar baku <2) dan indeks pinjal khusus yang diperoleh adalah 0,1 memenuhi syarat (Standar baku <1). Umpan yang paling efektif untuk pengendalian tikus dalam pengamatan ini adalah umpan sosis (50%).

Disarankan bagi Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Makassar agar melakukan sosialisasi mengenai peran dan fungsinya di pelabuhan terutama terhadap otoritas, pengelola dan pihak-pihak direksi setiap kantor sehingga program dan kegiatan pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit terutama tikus di wilayah kerja KKP Kelas I Makassar dapat berjalan dengan baik. (Helpi, Sakti dkk)


 

REFERENSI

 

[1]       Anam K, Sumiati, Hayati I. Keanekaragaman dan Distribusi Jenis Ektoparasit pada Tikus di Kawasan RSUD. AW. Sjahranie Samarinda dan Sekitarnya. Media Sains 2016;9:123–30

[2]       Annashr NN, Santoso L, Hestiningsih R. Studi Kepadatan Tikus dan Ektoparasit di Desa Jomblang, Kecamatan Candisari, Kota Semarang Tahun 2011. Wawasan Kesehat 2017;3:68–76.

[3]       Arengga B, Dahelmi, Salmah S. Jenis-Jenis Ektoparasit pada Mamalia Kecil yang ditemukan di Pasar Raya Padang, Sumatera Barat. J Biol Univ Andalas (J Bio UA) 2013;2:169–74.

[4]       Bekele A, Leirs H, Verhagen R. Composition of rodents and damage estimates in maize farms at Ziway, Ethiopia. In: Rats , mice and people?: rodent biology and management. Int Conf Rodent Biol Manag 2003:548.

[5]       Clapperton BK. A review of the current knowledge of rodent behaviour in relation to control devices. Wellington: Science & Technical Publishing; 2006.

[6]       Dewi TN. Gambaran Kepadatan Tikus Di Kelurahan Randusari Kecamatan Semarang Selatan Kota Semarang Tahun 2015. Universitas Negeri Semarang, 2015.

[7]       Dina S, Ustiawan A. Spesies Tikus, Cecurut dan Pinjal yang Ditemukan di Pasar Kota Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara Tahun 2013. Balaba 2013;9:39–46.

[8]       Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Surat Edaran Nomor HK.02.02/II/2796/2019 tentang Peningkatan Kewaspadaan terhadap Penyakit Pes (Black Death). 2019.

[9]       Manyullei S, Agus BB, Suleman IF. Studi Kepadatan Tikus dan Ektoparasit di Pelabuhan Laut Soekarno Hatta Tahun 2019. J Nas Ilmu Kesehat 2019;2:100–8.

[10]     Manyullei S, Natsir MF, Batkunda A. Identification of rat density and ectoparasites in seaport area of manokwari, Papua Province. Open Access Maced J Med Sci 2020;8:204–8. https://doi.org/10.3889/oamjms.2020.4234

[11]     Mursyafah LOM. Studi Identifikasi Keberadaan Bakteri Leptospira sp Pada Tikus di Daerah Rawan Banjir Wilayah Kerja Puskesmas Tempe Kabupaten Wajo. Universitas Hasanuddin, 2018..

[12]     Nurisa I, Ristiyanto. Penyakit Bersumber Rodensia (Tikus dan Mencit) di Indonesia. J Ekol Kesehat 2005;4:308–19.

[13]     Permenkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan untuk Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit serta Pengendaliannya. 2017..

[14]     Polinesia R, Daerah DI, Pes E, Gunung L, Tengah J, Mulyono A, et al. Indeks Keragaman Ektoparasit pada Tikus Rumah Rattus tanezumi Temminck, 1844 dan Tikus Polinesia R. exulans (Peal, 1848) di Daerah Enzootik Pes Lereng Gunung Merapi, Jawa Tengah. Vektora 2009;1:73–83. https://doi.org/10.22435/vektora.v1i2Okt.7.73-83.

[15]     Priyanto D, Ningsih DP. Identification of Endoparasites in Rats of Various Habitats. Heal Sci Indones 2014;5:49–53..

[16]     Priyanto D, Rahmawati, Ningsih DP, Setiyani E. Identifikasi Parasit pada Tikus di Berbagai Habitat di Kabupaten Banjarnegara. Banjarnegara: 2012.

[17]     Priyotomo YC. Studi Kepadatan Tikus dan Ektoparasit di Daerah Perimeter dan Buffer Pelabuhan Laut Cilacap. J Kesehat Masy 2015;3:86–96.

[18]     Ronny, Khaer A, Muammar. Kemampuan Perangkap Tikus dengan Variasi Umpan dalam Pengendalian Tikus di Wilayah Pelabuhan Paotere Kota Makassar. J Sulolipu Media