| Selamat datang di zona integritas KKP Kelas I Makassar | | Wilayah bebas dari korupsi (WBK) dan wilayah birokrasi bersih melayani | | Dilarang memberikan suap / gratifikasi dalam bentuk apapun | | Laporkan bila ada permintaan gratifikasi melalui menu WBS pada website ini | | Untuk kemudahan tentang informasi pelayanan KKP Makassar anda dapat mengakses pada menu SIMPEL-TA pada website ini atau whatsapp chatbot di link ini https://wa.link/dkf0b7 | | Selamat datang di zona integritas KKP Kelas I Makassar | | Wilayah bebas dari korupsi (WBK) dan wilayah birokrasi bersih melayani | | Dilarang memberikan suap / gratifikasi dalam bentuk apapun | | Laporkan bila ada permintaan gratifikasi melalui menu WBS pada website ini | | Untuk kemudahan tentang informasi pelayanan KKP Makassar anda dapat mengakses pada menu SIMPEL-TA pada website ini atau whatsapp chatbot di link ini https://wa.link/dkf0b7 |



KEHAMILAN DALAM PENERBANGAN

Share


Kehamilan merupakan suatu kondisi fisiologis normal, bukan suatu penyakit. Pada masa kehamilan yang berlangsung kurang lebih sembilan bulan (kurang lebih 40 minggu), wanita akan mengalami beberapa perubahan fisik maupun psikologis. Perubahan-perubahan tersebut terjadi akibat perubahan hormonal dan perkembangan janin dalam rahim ibu.


Lingkungan penerbangan/ketinggian bukan merupakan lingkungan alamiah bagi manusia yang kodratnya sebagai makhluk darat, dimana pada ketinggian akan terjadi perubahan-perubahan fisiologis yang dapat memperberat penyakit sebelumnya. Perubahan-perubahan fisiologis pada ketinggian menyebabkan orang yang berada diketinggian tersebut akan terpapar dengan tekanan udara yang menurun yang diikuti penurunan tekanan parsial oksigen, penurunan suhu, vibrasi, percepatan  (akselerasi gaya G dan radiasi kosmik).


Selain perubahan fisiologis pada ketinggian, kondisi kabin dan lamanya penerbangan juga dapat berperan pada keluhan yang dirasakan pada  saat melakukan penerbangan. Pada ketinggian sea level (1 atm) tekanan udara terukur 760 mmHg, saturasi oksigen berkisar 97% sedang pada ketinggian 10000 ft tekanan udara terukur 460 mmHg dengan saturasi oksigen 87%. Penambahan ketinggian dari sea level (1 Atm) ke 10000 ft menurunkan saturasi oksigen sekitar 10%.


Ketinggian yang masih dalam zona fisiologis bagi tubuh manusia adalah maksimal 10.000 ft di mana pada posisi ini tubuh yang sehat masih mampu beradaptasi dengan perubahan fisologi akibat ketinggian. Pada penerbangan dengan pesawat pressurized, tekanan dalam kabin diatur setara dengan ketinggian maksimal 8000 ft, dimana pada ketinggian ini saturasi orang yang sehat berkisar 93 %. Hal ini dilakukan untuk mengurangi hipoksia akibat berada diketinggian (IATA, 2012). Pada orang sehat perubahan tekanan dalam kabin tidak akan menyebabkan masalah yang berarti, namun pada orang yang telah memiliki masalah kesehatan perubahan ini akan memberi dampak.


Beberapa permasalahan pada wanita hamil terkait dengan penerbangan:

1. Morning Sickness

The Global Voice of pilot, 2018 menyebutkan bahwa mual atau muntah pada awal kehamilan dapat terjadi pada 50-80% dari seluruh kehamilan, terutama selama kehamilan trimester pertama. Tingkat keparahan, periodisitas, dan durasi mual biasanya berbeda-beda pada setiap wanita. Mual muntah dengan periodisitas dan durasi yang cukup lama dapat menyebabkan dehidrasi dan malnutrisi (ICAO,2012). Penerbangan dapat memberi dampak perubahan fisiologis pada saluran cerna ibu hamil yang kadang dikeluhkan sebagai nyeri perut atau mual/muntah. Gas yang terperangkap dalam saluran cerna akan menimbulkan rasa kembung dan nyeri perut yang hebat yang diperparah oleh rasa sesak akibat kehamilan. Obat anti muntah dapat dipertimbangkan pemberiannya pada ibu yang mengalami mual muntah yang cukup berat (Monica B. Gorbandt et al, 2008).


2. Hipotensi dan syncope

Tekanan darah umumnya menurun pada kehamilan Hal ini bisa disebabkan karena dehidrasi, tetapi sebagian besar karena efek hormonal yang menyebabkan relaksasi dinding pembuluh darah. Sekitar 25% aliran darah akan diarahkan ke rahim dan plasenta yang menyebabkan penurunan tekanan darah sistemik, menurunkan toleransi terhadap gaya G dan meningkatkan resiko black out dan syncope pada pilot. Pilot yang hamil umumnya dibatasi untuk terpapar dengan gaya G (The Global Voice of pilot, 2018).


3. Anemia 

Haemoglobin dan hematokrit mulai menurun pada bulan ketiga dan kelima serta akan mencapai nilai paling rendah pada bulan kedelapan kehamilan (ICAO, 2012). Kebutuhan zat besi yang meningkat pada kehamilan dapat menambah berat anemia. Pemberian zat besi dan asam folat dilakukan berdasarkan penilaian dokter. (The Global Voice of pilot, 2018).


4. Dehidrasi

Pada saat hamil produksi urin akan meningkat, yang selanjutnya dapat menyebabkan dehidrasi. Muntah dengan frekuensi yang sering dan berlangsung cukup lama juga salah satu penyebab dehidrasi pada ibu hamil. Dehidrasi akan menyebabkan tekanan darah menurun yang dapat menyebabkan keluhan pusing, kehilangan kesadaran dan gangguan pertumbuhan janin.akibat menurunnya aliran darah ke ibu dan janin (The Global Voice of pilot, 2018).


5. Hipoksia

Perubahan yang terjadi selama kehamilan menyebabkan wanita hamil rentan terhadap hipoksia. Pertumbuhan progesif janin, plasenta, rahim dan pembuluh-pembuluh darah meningkatkan kebutuhan oksigen.  Peningkatan volume darah serta kebutuhan oksigen akan meningkatkan beban kerja pada paru-paru dan jantung. Pada paru-paru wanita yang sedang hamil juga lebih banyak terkumpul cairan.  Efek hipoksia pada ketinggian akan meningkatkan upaya ventilasi untuk memenuhi keebutuhan oksigen jaringan (The Global Voice of pilot, 2018).


6. Deep Venous Thrombosis (DVT)

Kehamilan berhubungan dengan peningkatan risiko DVT akibat gabungan dari perubahan tekanan udara dan imobilisasi yang terjadi saat penerbangan.  Kejadian tromboemboli vena lebih besar 10 kali pada pada ibu hamil dibanding populasi normal. Risiko tromboemboli pada ibu hamil meningkat 2-4 kali pada penerbangan. Pada penelitian lainnya dikatakan bahwa penerbangan dapat meningkatkan risiko terjadinya thrombosis vena sebanyak 3 kali. Risiko tersebut mengalami peningkatan 18% setiap 2 jam penerbangan. Risiko terjadinya DVT berhubungan erat dengan faktor risiko individu (Immanuel N.T, https://www.alomedika.com/fitness-to-fly-pada-kehamilan)  Peningkatan kadar estrogen meningkatkan risiko pembekuan darah (The Global Voice of pilot, 2018).


Pada populasi normal ditemukan bahwa sekitar 4-5% populasi berisiko yang melakukan penerbangan menunjukkan tanda dan gejala DVT. Penggunaan stoking kompresi selama penerbangan diketahui dapat menurunkan risiko terjadinya DVT secara signifikan (Immanuel N.T, https://www.alomedika.com/fitness-to-fly-pada-kehamilan).


7. Radiasi Kosmik

Masalah kesehatan yang dapat ditimbulkan akbiat paparan radiasi kosmik adalah penyakit kanker, resiko genetic, gangguan pertumbuhan janin dan penyakit-penyakit degenerative. Meskipun diketahui efek dari paparan sinar kosmik dapat menyebabkan beberapa penyakit namun sangat sedikit bukti yang mendukung adanya penyakit yang diderita oleh personil maupun penumpang yang disebabkan oleh paparan sinar kosmik (Michael Bagshaw et al, 2008).


Menurut ICRP (Internasional Komisi Perlindungan Radiasi) paparan radiasi pada janin dan masyarakat umum tidak boleh melebihi 1,0 mSv pertahun (Michael Bagshaw et al, 2008,  ACOG, 2008).

Penelitian yang dilakukan Health Physics Society dalam jurnal Radiology 2008 menemukan, pemindai tubuh bandara memberikan 0,1 mikrosievert radiasi per pemindaian. Sementara rontgen dada mengeluarkan 100 mikrosievert radiasi. Kelaikan terbang.


Kelaikan terbang ibu Hamil.

Penilaian kelaikan terbang ibu hamil dilakukan untuk menemukan ada atau tidaknya penyakit serta kondisi yang bisa diperberat oleh lingkungan penerbangan. Untuk itu perlu dilakukan anamnesa yang terarah dan pemeriksaan tanda-tanda vital serta pemeriksaan luar untuk menilai kondisi janin.


Pemeriksaan penunjang seperti USG, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan dari dokter spesialis lain bagi yang memiliki penyakit akan sangat membantu dokter yang bertugas di bandara saat akan melakukan penilaian kelaikan terbang.


IATA menyebutkan wanita hamil dengan usia kehamilan belum mencapai 36 minggu untuk kehamilan single dan akhir minggu ke 32 untuk kehamilan multiple tanpa komplikasi tidak membutuhkan surat kelaikan terbang untuk dapat melakukan perjalanan dengan pesawat. Sedang untuk usia kehamilan yang sudah mencapai akhir minggu ke 36 bagi kehamilan single dan akhir minggu ke 32 bagi kehamilah multiple harus melalui penilaian dokter untuk dinyatakan fit to fly.


Regulasi ijin terbang bagi personil yang sedang hamil diatur olah International Civil Aviation Organization (ICAO). Namun begitu tiap tiap negara dapat membuat aturan sesuai dengan kebijakan negara tersebut. ICAO mengijinkan pilot yang hamil tanpa komplikasi untuk melakukan tugas terbang pada usia kehamilan 12-26 minggu. Sedangkan Permenhub RI no 8 tahun 2015 menyebutkan bahwa personil pesawat kelas 1 dan 2 yang sedang hamil tidak  diberikan ijin untuk melakukan tugas terbang.


Tips terbang aman dan nyaman saat hamil: 

Ibu hamil yang tidak memliki risiko tinggi terhadap perubahan tekanan akibat ketinggian dinyatakan aman untuk melakukan perjalanan dengan pesawat terbang. Terbang pada usia kehamilan trimester satu dan trimester tiga tetap memilki risiko untuk terjadinya keguguran atau persalinan premature. Turbulensi yang biasa terjadi dipesawat juga dapat memicu trauma.


Beberapa tips yang dapat dilakukan oleh ibu hamil sebelum terbang:

1. Rencanakan perjalanan di usia kehamilan yang dianggap aman bagi ibu hamil (trimester dua)

2. Pilih posisi kursi yang aman untuk melakukan pergerakan, sebisa mungkin lakukan mobilisasi setiap 30 menit terutama bila melakukan perjalanan panjang (lebih dari 4 jam).

3. Hindari makanan dan minuman yang dapat menghasilkan gas beberapa hari sebelum terbang.

4. Pasang sabuk pengaman dibagian bawah perut.

5. Gunakan stoking kompresi elastis bila akan melakukan perjalanan dengan durasi yang panjang.


Selain tips diatas, seorang ahli kandungan, dr. Frits, M.R, SpOG (K), MARS menyarankan agar Kehamilan Aman Dalam Penerbangan maka Cabin Crew mendapatkan pelatihan obstetri darurat, melengkapi pesawat dengan alat obstetri darurat serta perlunya rekomendasi dari SpOG sebelum flight surgeon atau maskapai penerbangan memberi ijin terbang.


Referensi:

1.    IATA, Medical Manual Passenger Care Section 6, February 2018

2.    The Global Voice of Pilot, Pregnancy and Flying, Human Performance Briefing Leaflet, 5 Desember 2018

3.    ACOG (The American College of Obstetricians and Gynecologist) Committee Opinion, Air Travel During Pregnancy, Vol. 132, No 2, August 2018

4.    Monica B. Gorbandt et al, Women’s Health Issues in Aerospace Medicine,Chapter 22, Fundamental of Aerospace Medicine, Fourth Edition 2008, p. 480-483

5.    Michael Bagshaw et al, Cosmic Radiation Chapter 22, Fundamental of Aerospace Medicine, Fourth Edition 2008, p. 226-231

6.    dr. Immanuel Natanael Tarigan, Fitness to Fly pada Kehamilan, https://www.alomedika.com/fitness-to-fly-pada-kehamilan

7.    Peraturan Menteri Perhubungan RI No. PM 8 Tahun 2015 Tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 76 (Civil Aviation Safety Regulation Part 67) Tentang  Standar Kesehatan dan Sertifikasi Personel Penerbangan

8.    Manual of Civil Aviation Medicine, International Civil Aviation Organization (ICAO), Third Edition, 2012

9.    Kol. Kes, dr. Frits M.R, SpOG (K), MARS, Kehamilan Yang Aman Dalam Penerbangan, ( Bahan Presentasi)