| Selamat datang di zona integritas KKP Kelas I Makassar | | Wilayah bebas dari korupsi (WBK) dan wilayah birokrasi bersih melayani | | Dilarang memberikan suap / gratifikasi dalam bentuk apapun | | Laporkan bila ada permintaan gratifikasi melalui menu WBS pada website ini | | Untuk kemudahan tentang informasi pelayanan KKP Makassar anda dapat mengakses pada menu SIMPEL-TA pada website ini atau whatsapp chatbot di link ini https://wa.link/dkf0b7 | | Selamat datang di zona integritas KKP Kelas I Makassar | | Wilayah bebas dari korupsi (WBK) dan wilayah birokrasi bersih melayani | | Dilarang memberikan suap / gratifikasi dalam bentuk apapun | | Laporkan bila ada permintaan gratifikasi melalui menu WBS pada website ini | | Untuk kemudahan tentang informasi pelayanan KKP Makassar anda dapat mengakses pada menu SIMPEL-TA pada website ini atau whatsapp chatbot di link ini https://wa.link/dkf0b7 |



MANAJEMEN LUKA YANG BENAR HARAPAN PENYEMBUHAN LUKA MAKSIMAL

Share


Luka adalah terputusnya kontinuitas jaringan karena cedera atau pembedahan. Luka bisa diklasifikasikan berdasarkan struktur anatomis, sifat, proses penyembuhan, dan lama penyembuhan. Berdasarkan sifatnya, luka dibedakan atas : abrasi, kontusio, insisi, laserasi, terbuka, penetrasi, puncture, sepsis, dan lain-lain (Baranoski, S & Ayello, E.A.2012).

 

Tipe penyembuhan Luka dibagi menjadi beberapa tahapan, Pertama, Penyembuhan primer (healing by primary intention). Dimana Tepi luka bisa menyatu kembali, permukaan bersih, tidak ada jaringan yang hilang. Biasanya terjadi setelah suatu insisi, berlangsung dari internal ke eksternal. Kedua, Penyembuhan sekunder (healing by secondary intention). Sebagian jaringan hilang, proses penyembuhan berlangsung mulai dari pembentukan jaringan granulasi di dasar luka dan sekitarnya. Ketiga, Delayed primary healing (tertiary healing) Penyembuhan luka berlangsung lambat, sering disertai infeksi, diperlukan penutupan luka secara manual (Baranoski, S & Ayello, E.A.2012).

 

Luka terbagi atas dua tipe berdasarkan lama penyembuhan lukanya, yakni  luka akut dan luka kronis. Luka dikatakan akut jika penyembuhan terjadi dalam 2 - 3 minggu. Sedangkan luka kronis adalah segala jenis luka yang tidak ada tanda-tanda sembuh dalam jangka lebih dari 4-6 minggu. Luka insisi bisa dikategorikan luka akut jika proses penyembuhan berlangsung sesuai dengan proses penyembuhan normal, tetapi bisa juga dikatakan luka kronis jika penyembuhan terlambat (delayed healing) atau jika menunjukkan tanda - tanda infeksi (Bryant, R.,and Nix., D. (2007).

 

Penyembuhan luka terdiri dari 4 tahapan/fase; Pertama, Fase bleeding, terjadi beberapa saat setelah cedera, pembuluh darah mengalami vasokontriksi. Kedua, Fase inflamasi, berlangsung mulai dari hari 1 - 3 atau 6 hari, menghasilkan transudat, terdapat eritma, edema dan nyeri. Ketiga, Fase proliferasi,  terjadi fibroblast, pembentukan granulasi yang menopang kolagen, berlangsung 2 hari  pertama setelah terjadi luka, hingga 21 hari. Fase Keempat, Fase maturasi atau remodeling, terjadi 21 hari hingga 2 tahun, ditandai dengan luka tertutup sempurna. (Bryant, R.,and Nix., D. (2007).

 

Faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan luka dipengaruhi oleh beberapa faktor. Cepat atau lambatnya penyembuhan luka ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah faktor nutrisi, hipoksia, infeksi, immunosupresi, penyakit kronik, teknik pembedahan, manajemen luka, usia dan genetik (Bryant, R.,and Nix., D. (2007).

 

Saat ini cara perawatan luka dilakukan dengan teknik modern dressing. Metode perawatan luka yang berkembang kini adalah menggunakan prinsip moisture balance, yang disebutkan lebih efektif dibandingkan metode konvensional. Perawatan luka menggunakan prinsip moisture balance ini dikenal sebagai metode modern dressing. Anggapan selama ini bahwa suatu luka akan cepat sembuh jika luka tersebut telah mengering. Akan tetapi faktanya, lingkungan luka yang kelembabannya seimbang akan lebih mendukung pertumbuhan sel dan proliferasi kolagen dalam matriks nonseluler yang sehat. Pada luka akut, moisture balance memfasilitasi aksi faktor pertumbuhan, cytokines dan chemokines yang mempromosi pertumbuhan sel dan menstabilkan matriks jaringan luka. Jadi, luka harus dijaga kelembabannya. Lingkungan yang terlalu lembab dapat menyebabkan maserasi tepi luka, sedangkan kondisi kurang lembab menyebabkan kematian sel, tidak terjadi perpindahan epitel dan jaringan matriks (Casey G, 2000)

 

Prinsip dan kaidah balutan luka (wound dressings) telah mengalami perkembangan sangat pesat selama hampir dua dekade ini. Teori yang mendasari perawatan luka dengan suasana lembab antara lain :

1.     Mempercepat fibrinolisis. Fibrin yang terbentuk pada luka kronis dapat dihilangkan lebih cepat oleh neutrofil dan sel endotel dalam suasana lembab.

2.     Mempercepat angiogenesis. Keadaan hipoksia pada perawatan luka tertutup akan merangsang pembentukan pembuluh darah lebih cepat.

3.     Menurunkan risiko infeksi; kejadian infeksi ternyata relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan perawatan kering.

4.     Mempercepat pembentukan growth factor. Growth factor berperan pada proses penyembuhan luka untuk membentuk stratum korneum dan angiogenesis.

5.     Mempercepat pembentukan sel aktif (Ronald,WK 2015).

 

Perawatan luka harus memperhatikan tiga tahap, yakni mencuci luka, membuang jaringan mati, dan memilih balutan. Mencuci luka bertujuan menurunkan jumlah bakteri dan membersihkan sisa balutan lama, debridement jaringan nekrotik atau membuang jaringan dan sel mati dari permukaan luka. Perawatan luka konvensional harus sering mengganti kain kasa pembalut luka, sedangkan perawatan luka modern memiliki prinsip menjaga kelembaban luka dengan menggunakan bahan seperti hydrogel. Hydrogel berfungsi menciptakan lingkungan luka tetap lembab, melunakkan serta menghancurkan jaringan nekrotik tanpa merusak jaringan sehat, yang kemudian terserap ke dalam struktur gel dan terbuang bersama pembalut (debridemen autolitik alami). Balutan dapat diaplikasikan selama 3-5 hari, sehingga tidak sering menimbulkan trauma dan nyeri pada saat penggantian balutan.

ü Apakah semua jenis luka menggunakan bahan modern wound dressing yang sama? Penggunaan modern wound dressing didasarkan pada jenis lukanya.

Untuk jenis luka yang hitam/mengeras maka jenis dressing yang digunakan adalah;  

Hidrogel,

Dapat membantu proses peluruhan jaringan nekrotik oleh tubuh sendiri. Berbahan dasar gliserin / air yang dapat memberikan kelembaban; digunakan sebagai dressing primer dan memerlukan balutan sekunder (pad /kasa dan transparant film). Topikal ini tepat digunakan untuk luka nekrotik / berwarna hitam / kuning dengan eksudat minimal atau tidak ada.

Film Dressing,

Jenis balutan ini lebih sering digunakan sebagai secondary dressing dan untuk luka-luka superfi sial dan non eksudatif atau untuk luka post operasi. Terbuat dari polyurethane film yang disertai perekat adhesif; tidak menyerap eksudat. Indikasi : luka dengan epitelisasi, low exudate, luka insisi. Kontraindikasi : luka terinfeksi, eksudat banyak.

Hydrocolloid,

Balutan ini berfungsi mempertahankan luka dalam suasana lembab, melindungi luka dari trauma dan menghindarkan luka dari risiko infeksi, mampu menyerap eksudat tetapi minimal; sebagai dressing primer atau sekunder, support autolysis untuk mengangkat jaringan nekrotik atau slough. Terbuat dari pektin, gelatin, carboxy-methylcellulose, dan elastomers. Indikasi : luka berwarna kemerahan dengan epitelisasi, eksudat minimal. Kontraindikasi : luka terinfeksi atau luka grade III-IV.

ü Untuk jenis luka yang kuning (slough) atau luka eksudat sedikit – banyak, maka jenis dressing yang digunakan adalah :

Foam Dressing / Absorbant dressing,

Balutan ini berfungsi untuk menyerap cairan luka yang jumlahnya sangat banyak (absorbant dressing), sebagai dressing primer atau sekunder. Terbuat dari polyurethanenon-adherent wound contact layerhighly absorptive. Indikasi : eksudat sedang sampai berat. Kontraindikasi : luka dengan eksudat minimal, jaringan nekrotik hitam.

Calcium Alginate,

Digunakan untuk dressing primer dan masih memerlukan balutan sekunder. Membentuk gel di atas permukaan luka; berfungsi menyerap cairan luka yang berlebihan dan menstimulasi proses pembekuan darah. Terbuat dari rumput laut yang berubah menjadi gel jika bercampur dengan cairan luka. Indikasi : luka dengan eksudat sedang sampai berat. Kontraindikasi : luka dengan jaringan nekrotik dan kering. Tersedia dalam bentuk lembaran dan pita, mudah diangkat dan dibersihkan.

Hydrocellulosa,

Digunakan untuk eksudat sedang – banyak karena memiliki daya serap tinggi, Dapat menahan cairan luka sehingga tidak merembes, tidak meninggalkan residu balutan, tidak nyeri saat dilepas, adhesive dan non adhesive,tidak bisa digunakan untuk luka nekrotik kering (Ronald,WK 2015).

 

Jenis dressing antimikrobial apa saja yang digunakan dalam perawatan luka modern? Dressing Antimikrobial yang digunakan adalah :

-         Sorbact, Cutimed sorbact 2,8%

-         Silver, Balutan mengandung silver 1,2% dan hydrofiber dengan spektrum luas termasuk bakteri MRSA (Methicillin-Resistant Staphy-Lococcus Aureus). Balutan ini digunakan untuk luka kronis dan akut yang terinfeksi atau berisiko infeksi. Balutan antimikrobial tidak disarankan digunakan dalam jangka waktu lama dan tidak direkomendasikan bersama cairan NaCl 0,9%.

-         Cadexomer Iodine, Antiseptik pada bakteri, jamur, virus, protozoa, trichomonas dan spora. Diberikan pada luka yang bereksudat, dapat bereaksi dengan asam amino dan enzim mikroba, tidak toksik terhadap fibroblast,lama kerja panjnag 2 – 3 hari.

-         Antimikrobial Hydrophobic, Terbuat dari diakylcarbamoil chloridenon-absorbennon-adhesif. Digunakan untuk luka bereksudat sedang – banyak, luka terinfeksi, dan memerlukan balutan sekunder.

-         Medical Collagen Sponge, Terbuat dari bahan collagen dan sponge. Digunakan untuk merangsang percepatan pertumbuhan jaringan luka dengan eksudat minimal dan memerlukan balutan sekunder.

 

Balutan lainnnya, seperti Bandage (Hypafix), tape adhesive dan cohesive bandage

Diberikan untuk mensupport kelembaban luka, menghilangkan bau, mengurangi nyeri, merekatkan balutan, fiksasi sekunder dan memberi rasa aman dan nyaman (Singer AJ,1999)

 

Terima kasih

(Penulis)

 

Referensi

1.       Baranoski, S & Ayello, E.A.2012. Wound Care Essensia;Practice principles, 3th Edition. New York: Lippicont Williams and Wilkins.

2.       Bryant, R.,and Nix., D. (2007), Acute and Chronic Wound; Current Management Concepts. 3 rd ed.St.Louis, MO; Elsevier Mosby.

3.       Casey G. Modern Wound Dressings. Nurs Stand. 2000; 15(5): 47-51.

4.       Ronald,WK (2015). Perawatan Luka Kronis dengan Modern Dressing,  CDK-230/ Vol. 42 No. 7; Bedah Jantung Paru dan Pembuluh Darah RS Gading Pluit. Jakarta

5.       Singer AJ, Clark RAF. Mechanisms of Disease : Cutaneous Wound Healing. N Engl J Med. 1999; 341(10): 738-46.